Di Balik Topeng Ande-Ande Lumut

 

Di Balik Topeng Ande-Ande Lumut

Di Balik Topeng Ande-Ande Lumut

Matahari tengah hari membakar permukaan Sungai Brantas hingga berkilau seperti lelehan kaca. Di tepian yang teduh oleh rimbunan pohon beringin, sebuah perahu kayu tua terikat pada batang bambu. Di atas perahu itu, duduk seorang pemuda berpakaian lusuh. Kain sarungnya sudah pudar warnanya, bajannya bertambal di sana-sini, dan rambutnya diikat asal saja.

Namun, di balik mata yang tampak lelah itu, tersimpan sorot tajam seorang bangsawan. Ia adalah Raden Ande-Ande Lumut, putra mahkota kerajaan yang sedang menyelubungi identitasnya.

Di haluan perahu, terpaku sepotong papan kayu bertuliskan pesan yang telah menjadi buah bibir seantero negeri:

"Siapa saja gadis yang ingin menyeberang sungai ini tanpa bayar, harus bersedia menjadi istri penjaga perahu."

Raden menghela napas panjang. Sudah tiga hari ia duduk di sini. Banyak perahu lain yang lalu-lalang, tapi perahu inilah yang paling ramai dikunjungi. Bukan karena kemahirannya mendayung, melainkan karena kabar tentang dirinya yang konon sakti mandraguna, meski kini terlihat miskin.

"Dasar manusia," gumamnya pelan, hampir tertelan debur air. "Hanya tertarik pada kulit, bukan isi."

 

Menjelang sore, iring-iringan wanita datang. Mereka turun dari tandu yang diusung empat pria kekar. Wangi minyak rambut dan bunga melati menyeruak, mengalahkan aroma lumpur sungai.

Seorang gadis berbaju kebaya sutra berwarna merah menyala melangkah maju. Ia membetulkan selendangnya yang mahal.

"Hei, Tukang Perahu!" serunya tanpa menatap mata pemuda itu. "Aku ingin menyeberang. Kata orang, kalau mau jadi istrimu, aku bisa gratis?"

Raden menatapnya datar. "Benar, Nduk. Tapi hidup di sini tidak mudah. Makan seadanya, tidur di gubuk, bekerja membasuh perahu setiap hari."

Gadis itu tertawa meremehkan. Ia mengibas-ngibas pakaiannya seolah takut terkena debu. "Ah, kau bercanda. Aku putri pedagang kain terbesar di kota sebelah. Suamiku nanti harus punya kuda dan rumah batu. Mana mungkin aku tinggal di gubuk reyot ini?"

Ia berbalik, wajahnya masam. "Dasar pengemis berkedok perjaka."

Raden hanya menunduk. Satu lagi gagal.

Sepanjang hari, parade itu terus berulang. Ada yang datang membawa emas sebagai mas kawin, ada yang menjanjikan tanah luas, ada pula yang mengancam akan membakar perahu jika ditolak. Semua menginginkan gelar "istri penjaga perahu sakti" tanpa mau memahami makna menjadi pasangan seorang yang sederhana.

Langit mulai jingga. Burung-burung kembali ke sarang. Raden hampir putus asa. Mungkin benar kata ayahnya, cinta sejati memang hanya ada dalam dongeng.

 

"Permisi, Kakak..."

Suara itu halus, seperti aliran air yang tenang. Raden mendongak.

Dihadapannya berdiri seorang gadis desa. Kakinya telanjang, injakan tanah panas tampak tidak mengganggunya. Ia mengenakan kebaya kutung berwarna cokelat tanah yang sudah sering dicuci, dan kain jarik yang rapi meski murah. Di punggungnya, ada pikulan berisi sayur mayur segar.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya Raden, suaranya sedikit lebih lembut dari tadi.

"Saya ingin menyeberang, Kak. Ibu saya sakit di seberang sungai, saya harus mengantarkan obat ini sebelum magrib," jawab gadis itu. Namanya Yanti.

Raden menunjuk papan kayu di haluan. "Baca itu dulu."

Yanti melangkah dekat, membaca tulisan tersebut dengan bibir bergerak pelan. Setelah selesai, ia menatap Raden. Tidak ada tatapan meremehkan, tidak ada pula tatapan lapar akan harta. Hanya ada ketenangan.

"Kalau begitu," kata Yanti pelan, "Saya bersedia menjadi istri Kakak, jika itu syaratnya."

Raden terkejut. "Kau tahu apa yang kau ucapkan? Aku tidak punya harta. Hidupku hanya di atas perahu ini."

Yanti tersenyum tipis. "Saya punya tangan untuk bekerja, Kak. Saya punya kaki untuk berjalan. Jika Kakak mendayung, saya bisa mencuci jala. Jika Kakak lapar, saya bisa memasak ikan bakar. Yang penting kita bersama, dan saya bisa sampai seberang untuk mengobati Ibu."

Jantung Raden berdegup kencang. Bukan karena cinta pada pandangan pertama, melainkan karena lega. Akhirnya, ada seseorang yang melihat manusia, bukan topengnya.

"Naiklah," kata Raden.

Sepanjang penyeberangan, mereka tidak banyak bicara. Hanya suara dayung membelah air dan kicau burung sore. Namun, ada kehangatan yang tumbuh di antara mereka. Yanti tidak bertanya tentang masa lalu Raden, tidak menanyakan asal-usulnya. Ia hanya bercerita tentang sawah, tentang ibunya, dan tentang harapannya yang sederhana.

Saat perahu menyentuh tepian seberang, Raden tiba-tiba berdiri. Ia mengambil sebuah seruling dari saku baju lusuhnya.

"Tunggu di sini," katanya.

Raden meniup seruling itu. Nada tinggi dan jelas melengking ke udara, menembus kesunyian sore.

Dari balik pepohonan di seberang sana, terdengar suara gemuruh. Puluhan pengawal kerajaan berseragam lengkap keluar dari persembunyian, membawa payung kebesaran dan pakaian keprajuritan. Mereka membungkuk serentak di hadapan Raden Ande-Ande Lumut.

Yanti terkejut, mundur beberapa langkah. Pikulan sayurnya hampir jatuh.

Raden berjalan mendekati Yanti. Ia melepas baju lusuhnya, revealing kain kebesaran kerajaan yang tersimpan di bawahnya. Wajah lelah itu kini bersinar wibawa.

"Maafkan aku, Yanti," ucap Raden. "Aku bukan penjaga perahu. Aku Raden Ande-Ande Lumut, putra mahkota."

Hening. Angin sore seolah berhenti berhembus. Para pengawal menahan napas.

Raden terus berbicara, "Selama ini aku mencari seseorang yang tidak mencintai mahkotaku, tapi mencintai kemanusiaanku. Hari ini, aku menemukannya."

Ia mengulurkan tangan, bukan sebagai perintah, tapi sebagai undangan.

"Aku tidak bisa menjanjikan hidup di gubuk lagi. Tapi aku berjanji, sejauh apapun aku berada di istana, hatiku akan tetap sederhana seperti di perahu ini. Maukah kau menyeberang bersamaku, bukan sebagai istri penjaga perahu, tapi sebagai permaisuri yang sejati?"

Yanti menatap tangan itu. Tangan yang tadi memegang dayung kasar, kini tampak bersih namun tetap sama hangatnya. Ia teringat pada ibunya, pada sawah, pada kesederhanaan yang telah mendidiknya.

Perlahan, Yanti meletakkan pikulan sayurnya di tanah. Ia tidak langsung menggenggam tangan itu. Ia membungkuk hormat, lalu mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Kakak tetap sama," bisik Yanti. "Tadi Kakak penjaga perahu yang baik. Sekarang Kakak pangeran yang baik. Saya tidak jatuh cinta pada baju Kakak, tapi pada hati Kakak yang mau menguji diri sendiri demi kebenaran."

Yanti menggenggam tangan Raden.

"Mau," katanya tegas. "Asalkan Kakak janji, kita tidak akan pernah lupa pada orang-orang kecil yang masih menunggu penyeberangan di sungai ini."

Raden tersenyum. Senyum yang paling tulus sejak ia lahir ke dunia.

Matahari tenggelam sepenuhnya, menyisakan jejak ungu di langit. Di tepian Sungai Brantas, seorang pangeran dan gadis desa berjalan berdampingan, meninggalkan perahu tua yang akan selalu menjadi saksi bisu bahwa cinta sejati tidak pernah membutuhkan topeng untuk bersinar.

---ooo000ooo---

- Tamat -

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kandovan

Gadis Muslimah Asia Tenggara

Kantor Google